Sabtu, 12 Mei 2012

Mencicipi Makanan Khas Kebumen yang Nyaris Punah
Nasi Penggel Mbak Widi, Mantap Berkat Tambahan Pete



Kebumen memiliki makanan khas, salah satunya nasi penggel yang saat ini nasibnya memprihatinkan bahkan hampir punah. Sebab, Kebumen kehabisan generasi muda yang mau melestarikan panganan khas tersebut.

SUDARNO AHMAD NASHORI, Kebumen

Nasi penggel merupakan makanan khas Kebumen, sebab selama ini belum pernah dijumpai nasi penggel di wilayah lain terutama di Jawa Tengah. Keberadaannya pun hampir punah, pasalnya penjual nasi penggel di Kebumen bisa dihitung dengan jari dan waktu berjualannya pun tidak bisa ditemukan setiap saat, hanya ada di waktu pagi hingga pukul sembilan. Selain itu, yang berjualan nasi penggel rata-rata usianya sudah diatas 60 tahun.

Nasi penggel adalah nasi dengan lauk kikil dan sayur gori atau nangka muda yang dimasak dengan santan. Yang unik dari nasi penggel yakni bentuk nasinya yang menyerupai nasi kepal. Nasi pada nasi penggel dibentuk bulat-bulat sebesar bola ping-pong. Untuk satu porsi biasanya berisi tujuh hingga delapan bulatan. Sayur gori dan kikil menjadi pasangan nasi penggel. Kikil sapi dimasak dengan bumbu kuning dan dipotong besar sebesar kikil di restoran Padang. Tapi jangan khawatir, sebab kikil direbus hingga lunak. Walhasil dijamin tidak akan repot saat memakannya.Biasanya makan nasi penggel akan lebih nikmat dengan tempe mendo.

Sayangnya, nasi penggel tidak sepopuler sate Ambal dan Lanting, makan khas Kebumen lainnya. Hal inilah yang membuat Widi Hastuti (45) tergerak untuk melestarikan makanan khas Kebumen yang hampir punah dengan membuka Warung Nasi Penggel Pemuda Mbak Widi.     "Saya merasa prihatin dengan keberadaan nasi penggel yang sudah langka, di Kebumen saja sudah jarang bagaimana diluar Kebumen. Makanya saya tergerak untuk melestarikan makanan khas Kebumen ini," kata widi Hastuti yang baru sekitar satu  bulan berjualan nasi penggel.

Widi yang asli warga Desa Jeruk Agung Kecamatan Klirong rela meninggalkan kemewahan Ibukota Jakarta pulang kampung untuk berjualan nasi penggel demi mempopulerkan makanan khas tersebut. 

"Saya membayangkan andaikata nasi Penggel Kebumen bisa sepopuler nasi gudeg atau nasi Padang. Rasanya nelangsa ketika anak-anak yang lebih muda atau bahkan ada warga Kebumen yang tidak mengenal nasi Penggel. Mereka lebih mengenal bakso, mie ayam atau jenis makanan cepat saji yang kini mulai menyerbu Kebumen sehingga nasi Penggel kurang popular di daerah asalnya. Kalau di daerah asalnya saja nasi penggel tidak populer bagaimana mungkin daerah lain akan mengenal," ungkap Ibu dari empat anak ini.

Warung Nasi Penggel Mbak Widi yang beralamat di Jalan Pemuda tepatnya berada di depan Hotel Patra Kebumen memodifikasi nasi penggel dengan menambahkan pete, sambal dan bawang goreng diatas nasi penggel yang sudah siap saji. Widi beralasan, dengan ditambahkan pete, sambal dan bawang goreng tersebut bertujuan untuk menambah kenikmatan nasi penggel buatannya. Selain itu, Widi juga  menambahkan bungur (daging yang ada dibagian hidung sapi) kedalam nasi penggel tersebut.

Meski demikian, Widi masih mempertahankan ciri khas dalam hal penyajian yakni menggunakan daun pisang yang ditaruh diatas piring sebagai wadah menyajikan nasi penggel. "Justru daun pisang inilah yang menjadi salah satu penambah keunikan dan keenakan dari nasi penggel," kata penjual nasi penggel yang tergolong masih muda ini.

Widi menjual nasi penggel mulai dari Rp 3 ribu untuk nasi dan sayur saja, Rp 7 ribu untuk nasi penggel lengkap dengan kikilnya. Sebagai pelengkap, Widi juga menyediakan tempe goreng, tahu goreng dan pisang goreng.

Widi mengaku selama sebulan dia berjualan nasi penggel, rata-rata dalam sehari berhasil menjual 50 porsi nasi penggel dan dihari libur bisa mencapai dua kali lipatnya. Warung ini buka setiap hari dari pukul 05.00 hingga pukul 11.00 WIB. (*)
   
   
   


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar